7 HAL YANG MEMPENGARUHI
BISNIS TAHAN KRISIS
Krisis ekonomi pasti terjadi, kapanpun itu. Selama 10 tahun terakhir ini, Indonesia telah diguncang 2 krisis ekonomi skala global yang membuat tatanan ekonomi berantakan. Krisis ekonomi tahun 1997 - 1998 membawa akibat positif bagi dunia bisnis Indonesia karena munculnya pengusaha-pengusaha baru dari dalam negeri. Kemunculan pengusaha baru ini menguntungkan pemerintah Indonesia karena membantu menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran.
Sedangkan krisis finansial global tahun 2008 ini mungkin baru akan dirasakan akibatnya di Indonesia pada tahun 2009. Gelombang PHK terjadi dimana-mana. Angka pengangguran yang belum terserap lapangan kerja saja masih jutaan. Ditambah pengangguran akibat PHK yang mencapai jutaan juta. Hal ini diperparah lagi dengan kondisi perusahaan yang belum mampu membuka lapangan kerja baru. Akhirnya dari kesulitan ini, muncullah peluang baru, berupa bisnis-bisnis tahan krisis.
Salah satu jenis bisnis tahan krisis adalah industri kreatif. Bahkan Pemerintah Indonesia sendiri mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif. Sedangkan target yang ditetapkan pemerintah sepanjang tahun 2009, industri kreatif ini mampu mencetak omzet Rp. 112 Triliun. Sebuah angka yang fantastis tentunya ditengah terpuruknya kondisi perekonomian kita. Industri kreatif dianggap tahan krisis karena industri ini bermodal kreatifitas. Dengan jumlah penduduk mencapai 200 juta jiwa, negara kita tentu sangat potensial untuk tumbuh kembangnya industri yang bermodal kreatifitas ini.
Saya pernah mengungkapkan dalam buku Peluang Bisnis Tahan Krisis, ada 7 hal yang mempengaruhi bisnis tahan krisis ini. Ironisnya, ke-7 hal ini justru jarang dimengerti dan dipahami oleh para pelaku bisnis kreatif itu sendiri. Mayoritas pengusaha kita menjalankan bisnis sebagaimana air mengalir. Padahal jika ke-7 hal ini dapat dioptimalkan, maka pertumbuhan bisnis kreatif itu sendiri akan menjadi fantastis.
1. Intuisi Pengusaha
Intuisi adalah modal paling utama pada industri kreatif. Intuisi ini hanya dapat dirasakan oleh kita. Seringkali orang awam menyebutnya "feeling". Banyak pengusaha yang mengandalkan intuisi untuk membangun dan membesarkan usahanya. Seringkali usahanya menjadi besar tanpa perhitungan yang rumit sehingga membuat orang terkagum-kagum dibuatnya.
Namun sebagian pengusaha yang lain musti berupaya keras untuk memahami intuisinya. Pengusaha jenis ini seringkali ketinggalan moment untuk melakukan eksekusi bisnis karena terlalu banyak pertimbangan. Untuk dapat menguasai intuisi secara cepat, dapat dilakukan dengan melakukan latihan rutin setiap hari. Coba istirahatkah pikiran. Gunakan perasaan untuk menilai baik buruknya melakukan eksekusi bisnis. Jika perasaan sudah tidak enak atau tidak cocok, segera tinggalkan. Jika kita merasa cocok atau yakin, segera lakukan meskipun perhitungan diatas kertas tidak mendukung. Begitu seterusnya diulang-ulang sampai akhirnya kita terbiasa menggunakan intuisi kita.
2. Produk yang memiliki lifetime lama, bisa dijual dalam kondisi apapun
Bagian ini akan memukul telak para pelaku bisnis latah alias pebisnis yang suka meniru pebisnis lain. Untuk dapat menjadi bisnis yang tahan krisis, produk yang kita miliki haruslah spesifik, lifetime-nya lama, dan bisa dijual dalam kondisi apapun. Contohnya adalah iklan dinamis. Produk yang satu ini akan disukai orang banyak, apalagi jika sifatnya orisinil. Bahkan banyak pula biro iklan yang akhirnya meniru, meskipun mereka nantinya hanya akan bertahan sebentar saja.
Melahirkan produk yang spesifik, lifetime-nya lama dan bisa dijual dalam kondisi apapun itu membutuhkan kreatifitas luar biasa tinggi. Setidaknya kita juga harus berpikir jauh ke depan untuk melihat kemungkinan produk kita tetap disukai konsumen dalam waktu 10 tahun mendatang. Anda berani berpikir seperti ini?
3. Strategi tahan krisis
Salah satu strategi tahan krisis adalah membuat organisasi bisnis yang ramping dan lentur menghadapi berbagai perubahan. PHK banyak terjadi karena perusahaan tidak mampu membiayai organisasi bisnisnya yang tambun. Membentuk organisasi bisnis yang ramping dan lentur pun masih belum cukup. Harus ditambah dengan fleksibilitas, yakni dapat beroperasi dimana saja dalam keadaan apa saja (misalnya beroperasi tanpa kantor dan gaji masing-masing karyawan hanya tinggal separonya). Disini kita harus menyusun sistem yang mendukung sistem operasi seperti ini.
4. Kecerdasan Pengusaha
Tidak seperti karyawan yang dipersyaratkan lulus pendidikan formal tertentu, pengusaha itu bisa berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari yang tidak makan sekolahan sampai yang pendidikannya tinggi. Tingkat kecerdasan pengusaha pun bermacam-macam. Namun yang paling beruntung adalah pengusaha yang mampu menguasai teknologi informasi dan informasi faktual dengan baik dan benar. Jenis pengusaha seperti ini tidak akan tergantung pada kecerdasan karyawannya, sehingga beroperasi seorang diri pun ia akan sanggup. Ini menjadikannya seorang pengusaha yang fleksibel dan berpotensi tinggi untuk tahan krisis.
5. Mencermati & Mempelajari Fakta Tren Saat Ini
Seringkali kita mengabaikan tren yang terjadi pada saat ini. Padahal tren saat ini akan mempengaruhi tren kedepan. Contohnya adalah tren menipisnya cadangan minyak dunia. Sudah jelas bahwa cadangan minyak dunia akan habis. Jika kita tetap bertahan di bisnis itu, apakah kita akan mendapatkan keuntungan di masa depan? Kita hanya akan mendapatkan keuntungan jika mampu menciptakan bahan bakar alternatif.
6. Tren Kedepan
Banyak pengusaha yang hanya berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini dan mengikuti arus saja. Padahal banyak perusahaan besar yang mati-matian melakukan riset untuk membuat tren kedepan. Pada akhirnya, yang bertahan adalah perusahaan yang mampu menciptakan tren kedepan. Misalnya tren masa depan orang melakukan transportasi melalui udara (karena jalanan di darat penuh sesak), maka hanya perusahaan yang mampu menciptakan alat transportasi melalui udara sajalah yang akan bertahan di masa depan.
7. Mampu mendobrak Pasar
Pasar itu diciptakan! Bukan kita berbisnis hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Lihatlah contohnya air minum dalam kemasan (AMDK). Tahun 1970-an, orang mungkin akan mencibir ketika kita minum AMDK. Tapi sekarang, saat pencemaran ada dimana-mana dan air bersih sulit didapat, maka orang membutuhkan air bersih yang bisa dikonsumsi setiap saat. Pada saat jaman makin maju dan waktu pribadi makin tersita, maka orang makin membutuhkan AMDK. Itulah mengapa perusahaan AMDK bisa berjaya saat ini. Bukan tidak mungkin 30 tahun lagi kita membutuhkan UDK (Udara Dalam Kemasan) karena makin parahnya polusi udara di kota-kota besar. Mampukah Anda mendobrak pasar dengan produk seperti ini?
Bisnis tahan krisis itu diciptakan, bukan muncul karena keberuntungan. Sedangkan krisis ekonomi itu pasti akan terjadi, kapanpun dapat terjadi. Mari kita persiapkan bisnis kita untuk menghadapi krisis tersebut. Semoga tulisan ini memberi inspirasi Anda. Salam sukses!
by Suryono Ekotama